
Kalimat بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ (Bismillahirrahmanirrahim) adalah bagian penting dalam Al-Quran yang menjadi pembuka hampir setiap surah, kecuali Surah At-Taubah. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa basmallah bukan sekadar kalimat pembuka, tetapi memiliki makna mendalam terkait tauhid, kasih sayang Allah, serta pentingnya menggantungkan segala urusan kepada-Nya.
Berikut adalah penjelasan basmallah berdasarkan tafsir beberapa ulama besar:
1. Tafsir Jalalain
Menurut Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi, بِسْمِ اللَّهِ berarti “dengan menyebut nama Allah.” Ini menunjukkan bahwa setiap perbuatan harus diawali dengan menyebut Allah agar mendapatkan keberkahan.
- اللَّهِ adalah nama khusus bagi Tuhan yang Maha Esa, yang tidak bisa digunakan untuk selain-Nya.
- الرَّحْمَٰنِ (Ar-Rahman) dan الرَّحِيمِ (Ar-Rahim) adalah dua sifat Allah yang menunjukkan kasih sayang.
- Ar-Rahman berarti kasih sayang Allah yang luas, mencakup seluruh makhluk, baik yang beriman maupun tidak.
- Ar-Rahim lebih spesifik kepada kasih sayang-Nya yang khusus bagi orang-orang beriman, terutama di akhirat.
Jalalain juga menjelaskan bahwa dalam membaca basmallah, seseorang sedang memohon pertolongan dan keberkahan dari Allah, sebagaimana kebiasaan para nabi yang memulai setiap perbuatan dengan menyebut nama-Nya.
2. Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa basmallah adalah bentuk permohonan pertolongan kepada Allah dalam segala aktivitas. Ia menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ selalu membaca basmallah sebelum melakukan sesuatu.
Beliau mengutip hadits:
“Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan basmalah, maka akan terputus (kurang berkah).” (HR. Abu Dawud dan lainnya)
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan perbedaan makna antara الرَّحْمَٰنِ dan الرَّحِيمِ:
- Ar-Rahman adalah kasih sayang Allah yang bersifat umum bagi seluruh makhluk di dunia.
- Ar-Rahim adalah kasih sayang khusus bagi kaum mukmin di akhirat.
Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa membaca basmallah dapat menjadi benteng dari gangguan setan, sebagaimana tercantum dalam hadits Rasulullah ﷺ:
“Jika seseorang memasuki rumahnya dan menyebut nama Allah ketika masuk serta ketika makan, setan berkata (kepada sesamanya), ‘Kalian tidak punya tempat bermalam dan tidak punya makanan di sini.'” (HR. Muslim)
3. Tafsir Al-Qurthubi
Menurut Imam Al-Qurthubi, basmallah memiliki keutamaan besar dalam syariat Islam. Ia menekankan bahwa membaca basmallah sebelum melakukan sesuatu adalah:
- Tabarruk (mencari keberkahan) dalam perbuatan yang dilakukan.
- Tawassul (memohon pertolongan kepada Allah) agar diberikan kemudahan.
- Bentuk ibadah karena menunjukkan ketergantungan kepada Allah.
Al-Qurthubi juga membahas perbedaan pendapat ulama tentang apakah basmallah merupakan bagian dari setiap surah dalam Al-Quran:
- Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa basmallah adalah bagian dari setiap surah.
- Madzhab Maliki berpendapat bahwa basmallah bukan bagian dari surah, kecuali dalam Surah An-Naml ayat 30 (Innahu min Sulaymāna wa innahu Bismillāhirrahmānirrahīm).
- Madzhab Hanafi berpendapat bahwa basmallah adalah ayat tersendiri di awal setiap surah, tetapi bukan bagian dari surah itu sendiri.
4. Tafsir Al-Kasyaf (Az-Zamakhsyari)
Menurut Az-Zamakhsyari, basmallah memiliki keindahan bahasa yang tinggi dalam ilmu balaghah (retorika). Ia menyoroti bahwa:
- بِسْمِ اللَّهِ menunjukkan perendahan diri seorang hamba kepada Allah sebagai bentuk pengakuan atas ketergantungan manusia kepada-Nya.
- الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ menunjukkan bahwa Allah bukan hanya Mahakuasa, tetapi juga Maha Penyayang.
Az-Zamakhsyari juga menjelaskan bahwa struktur bahasa dalam basmallah menunjukkan keindahan dan kesempurnaan dalam penyampaian makna. Penggunaan بِسْمِ (dengan nama) menunjukkan bahwa seseorang melakukan sesuatu bukan dengan kekuatannya sendiri, tetapi dengan izin dan pertolongan Allah.
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai apakah ayat pertama dari Surah Al-Fatihah adalah بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ atau الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
1. Pendapat yang Menganggap Basmallah sebagai Ayat Pertama
Mayoritas ulama dari Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanbali berpendapat bahwa بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ adalah ayat pertama dari Al-Fatihah. Dengan demikian, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ menjadi ayat kedua.
Dalil mereka:
- Dalam mushaf Madinah dan sebagian besar mushaf lainnya, basmallah dituliskan sebagai ayat pertama.
- Hadits Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, di mana beliau membaca بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ secara keras dalam shalat, menunjukkan bahwa itu adalah bagian dari surah.
- Dalam tafsir Jalalain, disebutkan bahwa basmallah adalah bagian dari setiap surah kecuali Surah At-Taubah.
2. Pendapat yang Menganggap Alhamdulillah sebagai Ayat Pertama
Ulama dari Madzhab Maliki dan sebagian dari Madzhab Hanafi berpendapat bahwa الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ adalah ayat pertama dari Al-Fatihah, sementara basmallah hanya sebagai pembuka tetapi bukan bagian dari surah.
Dalil mereka:
- Dalam riwayat dari sahabat Ibnu Mas’ud, ketika beliau membaca Al-Fatihah, ia tidak menyebutkan basmallah sebagai bagian dari surah.
- Dalam riwayat dari Imam Malik, bacaan shalat di Masjid Nabawi tidak diawali dengan basmallah secara keras, yang menunjukkan bahwa mereka tidak menganggapnya sebagai ayat pertama.
- Dalam Mushaf Kufah, basmallah tidak dianggap sebagai ayat dalam Al-Fatihah.