
Oleh Mulki Fatihah As Shidiq
Santri Kelas 6 Al-Furqon MBS Cibiuk
Kata “khitan” berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk masdar dari kata kerja “khatana,” yang secara harfiah berarti “memotong” (al-Qath’u). Dalam Ensiklopedi Islam, kata “khatana” juga berarti memotong atau mengerat. Dalam konteks ini, kata “memotong” (al-Qath’u) memiliki makna dan batasan khusus. Dalam bahasa Arab, “khitan” juga digunakan sebagai istilah untuk menyebut alat kelamin laki-laki dan perempuan, seperti yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Amru an-Naqid serta Zuhair bin Harb semuanya dari Sufyan, Abu Bakar berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyainah dari az-Zuhri dari Sa’id bin al-Musayyab dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, ‘Fitrah itu ada lima, atau ada lima perkara yang termasuk fitrah, yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur kumis.'” (HR. Imam Muslim).
Khitan atau sirkumsisi adalah prosedur pemotongan atau penghilangan sebagian besar kulit penutup (kulup) pada penis. Prosedur ini dapat dilakukan pada pria sejak bayi, usia anak-anak, atau saat dewasa. Dengan perkembangan teknologi, berbagai metode khitan telah tersedia, seperti khitan konvensional, khitan laser, khitan klamp, khitan electric cauter, dan khitan stapler.
Namun, sebagian orang masih menganggap khitan hanya sebagai tradisi budaya atau agama. Padahal, khitan memiliki manfaat penting bagi kesehatan. Berikut adalah beberapa fakta penting tentang khitan yang perlu diketahui:
- Manfaat Khitan untuk Mengurangi Risiko Penyakit
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa khitan dapat mengurangi risiko infeksi HIV, kanker penis, serta penyakit menular seksual lainnya seperti sifilis, herpes, dan HPV. Meskipun demikian, risiko penularan penyakit tidak sepenuhnya hilang, sehingga penting untuk melakukan hubungan seks dengan aman dan benar. - Kebersihan Penis Menjadi Lebih Baik Setelah Khitan
Khitan tidak hanya memudahkan pembersihan penis tetapi juga membantu mengurangi risiko infeksi saluran kemih (ISK). Pada pria yang tidak disunat, risiko peradangan pada kulup dan cedera resleting sering terjadi. - Khitan Tidak Berdampak pada Fungsi Seksual
Penelitian menunjukkan bahwa khitan tidak mempengaruhi fungsi seksual, sensitivitas, maupun kenikmatan dalam berhubungan seksual. - Khitan Tidak Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Mitos bahwa khitan dapat mempengaruhi pertumbuhan anak adalah salah. Pertumbuhan anak dipengaruhi oleh faktor genetik, hormon pertumbuhan, dan asupan gizi yang baik. - Khitan Direkomendasikan Saat Bayi atau Anak-Anak
Meskipun khitan dapat dilakukan pada segala usia, melakukannya saat bayi atau anak-anak dianggap memberikan manfaat lebih baik. Khitan pada usia dewasa umumnya memerlukan waktu pemulihan yang lebih lama dan risiko komplikasi yang lebih besar. - Risiko Komplikasi dalam Setiap Metode Khitan
Khitan umumnya aman, namun tetap ada risiko komplikasi seperti perdarahan, bekas luka, infeksi, dan reaksi alergi terhadap anestesi. - Mitos Tentang Khitan Jin
Beberapa orang meyakini adanya khitan jin, padahal itu bisa disebabkan oleh kondisi medis yang disebut parafimosis, yaitu ketika kulup penis tertarik ke belakang dan tidak bisa kembali ke posisi semula, sehingga kepala penis terlihat seperti sudah disunat.
Khitan Menurut Sayyid Sabiq
Menurut Sayyid Sabiq, khitan bagi laki-laki adalah memotong kulit yang menutupi ujung kemaluan untuk mencegah penumpukan kotoran, memudahkan pembersihan saat buang air, dan tidak mengurangi kenikmatan saat berhubungan seksual. Khitan perempuan, menurut Sayyid Sabiq, adalah memotong bagian teratas dari faraj.
Sejarah Khitan
Nabi Ibrahim dikenal sebagai “Khalilullah” yang berarti “Sahabat Allah”. Selain mengajarkan ibadah kurban, beliau juga diperintahkan untuk melakukan khitan, yang kemudian menjadi kewajiban bagi umat Muslim laki-laki. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, disebutkan:
“Nabi Ibrahim adalah orang yang pertama kali memakai celana panjang, membersihkan rambut yang kotor, mencukur bulu kemaluan, dan orang yang pertama kali melakukan khitan dengan qadum saat beliau berusia 80 tahun. Beliau dikenal sebagai orang yang pertama kali menjamu tamu dan orang yang pertama kali rambutnya beruban.” (HR. Ibnu Hibban).
Menurut beberapa pendapat, “qadum” adalah sebuah alat seperti kapak yang digunakan oleh tukang kayu. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa “qadum” adalah nama sebuah tempat di mana Nabi Ibrahim disunat. Perintah khitan tidak hanya diberikan kepada Nabi Ibrahim, tetapi juga kepada Nabi Ismail dan seluruh hamba Allah lainnya. Jika Nabi Ibrahim menjalani khitan pada usia lanjut, Ismail disunat pada usia 13 tahun.